Jumat, 19 April 2013

Cerpen Kamu Guruku


Kamu Guruku

Hari itu adalah hari pertamaku kuliah. Aku tidak menyangka, aku dapat masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang cukup ternama di Indonesia. Aku sangat bersyukur dapat diterima disana lewat jalur undangan. Aku sangat bahagia sekali keinginanku dapat tersampaikan. Jurusan yang akan aku tempuh juga, jurusan yang sesuai dengan keahlianku.
Pertama kali masuk kelas, aku tidak mengenal siapapun. Aku bingung siapa yang akan aku ajak berkenalan. Aku juga anak yang pemalu. Tiba-tiba ada salah satu anak perempuan cantik yang mengajakku berkenalan.
“Hai, boleh tahu siapa namamu?” Tanyanya kepadaku.
“Namaku Ryan, kalau namamu siapa?” Kataku kepadanya.
“Namaku Anis, senang bisa berkenalan denganmu” Katanya sambil tersenyum kepadaku.
Aku tak habis pikir dia sungguh cantik. Pada saat dosenku memberikan pertanyaan, Anis menjawabnya dengan lancar. Namun pada saat dosen bertanya padaku, aku tidak menjawab satu kata sama sekali. Aku sangat malu karena aku kalah dengan seorang wanita. Aku heran mengapa aku tidak bisa menjawabnya saat itu. Padahal, selang beberapa menit kemudian aku tahu jawabannya. Setelah kelas selesai aku mengajak Anis ke taman di kampusku.
“Nis, ke taman yuk” Tawarku ke Anis.
“Ayo Yan” Jawabnya.
Kami di taman bercerita-cerita tentang pengalaman yang pernah kita alami. Kami juga bercanda tawa dengan lelucon yang sangat lucu. Aku sangat nyaman sekali berteman dengannya. Dia tidak hanya cantik tapi dia juga pintar dan lucu.
Suatu hari aku sangat kebingungan sekali mengerjakan tugas dari dosen. Sudah kucoba untuk mengerjakannya tapi gagal. Aku mencoba mengerjakannya berkali-kali tapi selalu gagal dan justru lebih jelek dari yang pertama. Karena lelah aku berhenti sejenak dan melihat telepon genggamku. Tiba-tiba aku teringat Anis, aku langsung menelponnya.
“Halo, Anis?” Tanyaku.
“Iya, ada apa Yan tiba-tiba menelponku?” Tanyanya.
“Bisa bantu aku tidak Nis? Aku mengerjakan tugas dari Pak Heri loh selalu gagal” Tanyaku Lagi.
“Bisa kok Yan, Aku sudah selesai mengerjakan tugas yang itu” Jawabnya.
“Makasih loh Nis aku jadi tidak enak sama kamu, aku besok ke rumahmu ya Nis” Kataku.
“Ah tidak apa-apa kok Yan, oke aku tunggu” Kata Anis.
Keesokan harinya aku datang ke rumah Anis. Anis membantuku mengerjakannya dengan suka rela. Dia juga mengerjakannya dengan baik dan benar. Dia tidak hanya membantu mengerjakannya tapi dia juga mengajariku bagaimana cara menyelesaikannya dengan baik. Tugasku akhirnya dapat terselesaikan dengan baik berkat bantuan Anis. Aku sangat beruntung dapat kenal dengan anak sebaik Anis.
Satu semester berlalu, hari itu adalah Ujian semester. Sebelum hari itu aku benar-benar belajar dengan giat. Karena keseriusan belajarku, aku dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan lancar tidak ada satu soal yang belum terisi olehku. Soal-soal yang diberikan begitu mudah menurutku.
Setelah liburan semester berlalu, pengumuman hasil ujian tertempel di Mading kampus. Aku mencari-cari namaku terletak dimana. Setelah aku melihat namaku, aku sangat terkejut melihat IP yang aku peroleh hanya 3,05. IP yang kuperoleh hampir saja membuatku tidak bisa melanjutkan ke semester berikutnya. Setelah itu, aku mencari nama Anis. Aku melihat nama Anis terletak di peringkat lima dengan IP yang sangat tinggi. Aku sangat kagum dengan nilai yang diperolehnya.
Sejak hari pengumuman itu, aku tidak pernah bertegur sapa dengan Anis. Aku malu dan merasa aku tidak pantas berteman dengannya. Dia sering menyapaku tapi aku tidak pernah mnghiraukan sapaannya. Dia juga sering mengirim SMS dan menelponku tapi aku tidak pernah menghiraukannya. Sampai suatu hari, aku mendengar kabar dia opname dirumah sakit. Setelah mendengar kabar itu, aku juga tidak menjenguknya. Setelah dia masuk kuliah lagi, dia menahan tanganku.
Dia berkata “Mengapa kamu menghindar dariku? Apa salahku?”.
Aku berkata “Kamu tidak punya salah kok”.
“Lalu Mengapa?” Tanyanya.
“Aku hanya merasa tidak pantas berteman denganmu, kamu anaknya cantik, pintar, baik, sedangkan aku” Jawabku.
“Hei, hei, justru semenjak pengumuman itu aku ingin membantumu untuk mencapai IP yang sangat bagus” Kata Anis.
“Ya Tuhan, baru kali ini aku bertemu dengan orang yang sebaik dia” Kataku dalam hati.
Semenjak hari itu aku seolah les privat dengan Anis. Setiap hari setelah kelas selesai aku dan Anis selalu belajar bersama di tempat yang menurut kami nyaman. Aku merasa dia memberi perhatian lebih kepadaku. Aku merasa seperti aku ini adalah saudaranya yang sangat dekat. Kami selalu merasakan senang dan duka bersama.
Setelah satu semester berlalu lagi. Aku menghadapi ujian semester lagi. Lagi-lagi aku mengerjakan soal-soal itu dengan lancar. Soal-soal yang diberikan terasa lebih mudah dibanding ujian semester lalu. Setelah hasil ujian ditempel dimading, aku mendapati namaku terletak di peringkat tiga. Namun, aku melihat nama Anis di peringkat lima. Aku sangat terheran hasil yang ku peroleh dapat melampaui hasil yang diperoleh Anis. Tiba-tiba ada seseorang menepuk bahuku.
“Ehm…. Bagus Yan, kamu pantas mendapatkannya, pertahankan terus ya nilaimu” Kata Anis sambil tersenyum kepadaku.
“Makasih Nis, ini kan berkat kamu” Kataku sambil bersenyum balik pada Anis.
“Sama-sama Yan tapi itu tidak sepenuhnya berkatku tapi semangatmu untuk belajar yang membuat kamu mendapatkan nilai itu” Kata Anis
Beberapa minggu setelah pengumuman, Anis opname di rumah sakit lagi. Aku menjenguknya dengan membawa buah-buahan kesukaannya. Kata orang tuanya, dia sakit kanker paru-paru dengan stadium yang tinggi. Aku tidak menyangka anak sesemangat dan seceria Anis ternyata menyimpan penyakit yang begitu parah. Aku semakin kagum dengan Anis yang kukenal.
Seminggu kemudian, Anis keluar dari rumah sakit karena dinyatakan keadaannya mulai membaik lagi. Namun setelah dia keluar dari rumah sakit, tiba-tiba dia meminta maaf kepadaku. Aku terheran, seingatku Anis tidak punya salah kepadaku. Aku terus bertanya-tanya mengapa dia berkata seperti itu. Tiba-tiba aku memiliki firasat yang sangat buruk terhadap Anis. Aku juga bermimpi jelek tentang Anis. Keesokan harinya, aku mendapat berita yang sangat buruk dari temanku.
“Nah ini dia yang aku cari, kamu tahu tidak tentang kabar ini?” Kata temanku.
“Kabar apa Din?” Tanyaku.
“Kabarnya sangat buruk sekali tadi jam lima pagi Anis meninggal dunia” Kata temanku.
“Serius kamu?” Tanya temanku.
“Aku serius Yan, aku tidak mungkin bercanda tentang hal seperti itu”
Aku sungguh tidak menyangka, teman terbaikku telah tiada. Aku sangat merasa sangat kehilangan. Seolah aku kehilangan saudaraku yang begitu dekat. Selama kelas dimulai, aku sama sekali tidak berkonsentrasi dengan apa yang dijelaskan oleh dosen. Setelah kelas selesai, aku langsung ke rumah Anis untuk melayatnya. Seharian aku tidak berhenti menangis dan berkata “Mengapa kamu datang dan pergi dengan cepat dari kehidupanku?”. Aku seolah tidak percaya atas kepergianmu ini. Kebaikan dan tidak akan pernah kulupakan Anis. Kamu membuatku mempelajari banyak hal tentang dunia ini. Kamu bukan hanya guruku dalam mata kuliah dalam jurusan kita tapi kamu guruku dalam segala hal. Kamu adalah guruku.



Selesai

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar